Mochi yang melihat respon Lynx saat menerima informasi mengenai prajurit bayaran, menepuk bahu Lynx. "Kita semua menginginkan itu, tapi kau belum sepenuhnya siap. Kane dan pasukannya memiliki senjata yang jauh lebih canggih. Jika kau gegabah, mereka bisa menghancurkanmu dengan mudah. Kedatangamu yang seharusnya bisa menyelamatkan mereka semua, justru menghilangkan harapan mereka jika terjadi sesuatu padamu."

Lala menatap Lynx dengan cemas. "Kakek benar. Kau harus mempercepat latihanmu, Lynx. Kekuatanmu luar biasa, tapi kau harus bisa mengendalikannya dengan sempurna."

Lynx mengangguk, matanya penuh tekad. "Aku akan berlatih lebih keras. Aku tidak akan membiarkan mereka menang."

"Bertahanlah Leena, aku pasti datang untuk melindungimu." Batin Lynx.

Tiba-tiba Lynx berdiri lalu memandangi Lala dan Mochi. "Tunggulah di sini, aku akan mencari makanan untuk kita."

Tanpa menunggu jawaban, Lynx beranjak pergi mencari makanan ke tengah hutan, meninggalkan Mochi dan Lala yang bersedih.

Lala yang melihat Lynx sudah menjauh, akhirnya duduk menangis sambil memeluk lututnya. "Ayah...!"

"Sabarlah cucuku. Hidup mati sudah ditakdirkan. Sekarang ini, kita sudah menemukan orang yang mewarisi hasil penemuan ayahmu, dan orangnya juga berjiwa besar, suka menolong. Aku yakin, harapan ayahmu untuk melindungi dunia kita akan terwujud melalui dia." Kata Mochi membujuk cucunya tanpa menghentikan tangisnya.

Menahan duka dapat menjadi penyakit, dan menangis adalah solusi terbaik untuk melepaskan kedukaan tersebut sebelum menjadi penyakit.

"Anakku, ayahmu ini akan memastikan pewarismu bisa menggunakan warisanmu dengan baik untuk melindungi orang-orang yang membutuhkan." Batin Mochi yang berusaha menahan kesedihannya sambil mengelus rambut cucunya.

Lynx dari sebuah atas pohon menyaksikan kejadian itu semua. Sebelumnya, Lynx sudah merasakan kesedihan yang ditahan oleh Lala, karena itu dia memutuskan untuk pergi sementara waktu, memberikan waktu agar Lala dapat menenangkan diri bersama kakeknya.

"Milo sudah memberikanku kesempatan dengan memberikan kekuatan. Aku pasti akan melindungi kalian." Batin Lynx, lalu dia melompat pergi mencari makanan.

Hari itu, setelah kembali mencari makanan, Lynx memulai lagi latihan bersama Mochi, kali ini dengan tujuan yang lebih besar. Setiap pukulan, tendangan, dan gerakan yang dia lakukan membawa harapan baru—tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga menyelamatkan semua orang yang penting baginya dan penduduk di pulau itu.

Di sisi lain, rasa dendam Lala terhadap pemerintah semakin dalam. Dia bersumpah untuk membantu Lynx menguasai kekuatannya, agar mereka bisa mengalahkan musuh yang jauh lebih kuat.

Kali ini, Lynx berdiri di dekat pinggir yang dikelilingi pohon-pohon tinggi dan batu-batu alami di sekitarnya. Mochi berdiri di depannya dengan tongkat kayu panjang, sementara Lala duduk di salah satu batu besar, mengamati dengan penuh antusias.

"Baiklah, Lynx," kata Mochi sambil menyilangkan tangan di depan dada. "Kita akan memulai dengan mengukur seberapa besar kekuatan fisikmu."

Lynx mengangguk. "Apa yang harus aku lakukan?"

Mochi menunjuk beberapa batu besar yang ada di dekat mereka. Batu-batu itu memiliki bentuk bervariasi dari ukuran kecil hingga besar. "Cobalah angkat batu-batu itu satu per satu, mulai dari yang terkecil."

Lynx mendekati batu pertama, mengangkatnya dengan mudah. Dia tersenyum kecil, melangkah ke batu berikutnya. Batu kedua dan ketiga juga terangkat tanpa kesulitan. Namun, ketika mencapai batu terbesar, dia memusatkan energinya, mengangkat batu itu dengan kekuatan penuh. Batu itu terangkat ke udara, tetapi tangan Lynx sedikit bergetar, dan batu itu terjatuh ke tanah dengan suara keras.

"Lynx, itu adalah batasan kekuatanmu," kata Mochi sambil menganggukkan kepalanya, berpikir latihan yang cocok. "Kita akan meningkatkan kekuatanmu."

Lala tertawa kecil. "Kakek benar, kau perlu belajar mengalirkan energimu dengan baik untuk meningkatkan kekuatanmu, Lynx."

Lynx tersenyum canggung. "Aku akan mencoba lagi, tapi… sangat susah mengendalikan kekuatanku."

Mochi berjalan ke sisi yang lebih terbuka dan mengambil sebuah kantong kecil yang berisi biji-biji tanaman kering yang rapuh. Mochi ingin melatih kontrol tenaga Lynx. Dia mengambil satu biji dari dalam kantong dan menatap Lynx.

"Tugasmu adalah menangkap biji ini tanpa menghancurkannya," kata Mochi dengan nada serius.

Lynx mengerutkan dahi. "Itu… mudah, kan?"

Mochi tersenyum samar. "Coba saja."

Mochi melemparkan biji itu satu persatu ke berbagai arah dengan berbagai kecepatan. Lynx mengerahkan kecepatannya untuk berlari ke segala arah untuk menangkap dan menggerakkan tangannya dengan cepat, tetapi biji itu hancur saat menyentuh telapak tangannya.

"Lagi," kata Mochi. Dia melemparkan biji berikutnya, tetapi hasilnya sama—biji itu pecah.

Lala, yang mengamati dari jauh, mengangkat tangan. "Lynx! Kontrol tenagamu. Kau harus bisa cepat sambil mengendalikan tenagamu!."

Lynx mencoba saran Lala. Mochi melemparkan biji lagi, dan kali ini Lynx berhasil menangkapnya tanpa menghancurkannya. Dia tersenyum lebar, tetapi ketika Mochi melemparkan dua biji sekaligus ke arah yang berbeda, Lynx kembali kesulitan.

"Kau perlu melatih kecepatan dan kontrol secara bersamaan," kata Mochi. "Ini semua tentang keseimbangan."

Latihan itu berlangsung selama hampir satu jam hingga Lynx mulai terbiasa menangkap beberapa biji sekaligus tanpa menghancurkannya.

Setelah istirahat singkat, Mochi meminta Lynx untuk berlari melintasi jalur halangan yang telah disiapkan. Ada kayu yang tergeletak, batu besar yang harus dilompati, dan lubang kecil yang harus dihindari.

"Lynx, jangan hanya mengandalkan kekuatan. Fokus pada kecepatan dan keluwesan," kata Mochi sambil memegang tongkatnya.

Lynx mulai berlari, menghindari rintangan dengan mudah pada awalnya. Namun, ketika dia mencoba melompati sebuah batu besar, kakinya sedikit terlalu kuat menghantam tanah, menyebabkan tanah disekitarnya retak.

"Lynx, Semangatlah! Kendalikan energimu!" seru Lala dari sisi lapangan.

Lynx menghela napas dan mencoba lagi. Kali ini, dia lebih berhati-hati, melompati rintangan tanpa merusaknya. Mochi tersenyum puas.

"Bagus. Sekarang kita tambah sedikit tantangan," kata Mochi sambil memukul sebuah balok kayu dengan tongkatnya, membuat balok itu berguling di jalur Lynx.

Lynx dengan cepat melompat, mendarat sempurna di sisi lain. Dia tersenyum lebar, merasa mulai memahami keseimbangan antara kekuatan dan kontrol.

Selain latihan fisik untuk meningkatkan kecepatan dan fleksibilitas, Mochi juga setiap kali mereka berhenti untuk istirahat, selalu meminta Lynx untuk bermeditasi. Kali ini, Mochi memutuskan untuk melangkah lebih jauh.

"Lynx, coba kau rasakan lagi energi di sekitarmu," kata Mochi.

Lynx percaya penuh kepada Mochi. Dia mulai menutup matanya dan mulai bernapas perlahan. Tubuhnya mulai beresonansi dengan alam, dan Mochi bisa merasakan harmoni yang mulai terbentuk.

"Bagus," kata Mochi. "Sekarang, cobalah menghimpun sedikit energi itu."

Lynx ragu-ragu. "Bagaimana jika terjadi lagi hal yang sama?"

"Aku ada disini. Kau aman," kata Mochi dengan nada menenangkan.

Lynx mencoba menghimpun energi, tetapi seperti sebelumnya, tubuhnya mulai memanas dan terasa seperti akan meledak.

"Aaagh!" Lynx memegang dadanya, napasnya tersengal.

Mochi segera mendekat dan menggunakan keahlian akupunturnya untuk menenangkan aliran energi di tubuh Lynx. Dengan beberapa totokan di titik-titik tertentu, tubuh Lynx mulai rileks, dan dia akhirnya pingsan.

Lala, yang melihat dari kejauhan, mendekat dengan cemas. "Kakek, apakah Lynx akan baik-baik saja?"

"Dia akan baik-baik saja," kata Mochi sambil mengusap kening Lynx. "Tapi kita harus berhati-hati. Tubuhnya belum siap untuk menampung energi sebanyak itu."

Lynx akhirnya terbangun beberapa menit kemudian, wajahnya pucat tetapi terlihat lebih tenang.

"Aku tidak tahu apa yang salah," gumam Lynx.

"Tubuhmu hanya butuh waktu," kata Mochi dengan nada sabar. "Kita akan terus berlatih, sedikit demi sedikit, hingga kau bisa mengendalikan energimu.

Di malam harinya, Mochi meminta Lynx untuk bermeditasi lagi, tetapi kali ini dengan fokus pada menghimpun energi sedikit demi sedikit.

"Bayangkan tubuhmu seperti sungai," kata Mochi. "Air mengalir perlahan, tidak terlalu deras, tidak terlalu lambat. Itu yang harus kau capai."

Lynx menutup matanya dan mencoba mengikuti arahan Mochi. Awalnya, dia merasakan aliran energi yang kuat mengisi tubuhnya, tetapi dia dengan cepat kehilangan kendali. Tubuhnya mulai terasa panas, dan dia membuka matanya dengan panik.

"Aku tidak bisa… ini terlalu sulit," kata Lynx sambil memegang dadanya.

"Kau harus bersabar," kata Mochi. "Coba lagi, tetapi lebih pelan. Jangan terburu-buru."

